pengunjung

free counters

Sabtu, 28 Mei 2011

Kahlil Gibran, Maestro Seni dan Penulis Legendaris

 
i
2 Votes
Quantcast

Kahlil Gibran, Maestro Seni dan Penulis Legendaris

Kahlil Gibran,  berbagai karya seninya diakui keindahan dan kedalaman maknanya. Dengan bahasa alegoris, esoteris, dan mistis, yang khas dunia Timur. Bersama Rabindranath Tagore, ia dianggap sebagai duta-duta budaya oriental yang menghadirkan khazanah Timur yang eksotik dan mistis kepada dunia Barat Modern. Khalil Gibran  adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon Amerika. Ia lahir di Lebanon Provinsi Suriah di Khilafah Turki Utsmani dan menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di Amerika Serikat.

Riwayat Hidup dan karier

Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 dan meninggal di New York City, Amerika Serikat, 10 April 1931 pada umur 48 tahun. Dia lahir di Basyari, Libanon dari keluarga katholik-maronit. Bsharri sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.
Orangtuanya memberi nama Gibran, persis seperti nama kakeknya sebagai adat kebiasaan orang-orang Lebanon waktu itu. Ayahnya sendiri bernama Khalil Gibran. Maka nama lengkapnya menjadi Gibran Khalil Gibran atau Jubran Khalil Jubran, sedangkan kalangan bukan Arab dipakai nama “Kahlil Gibran” dengan mengubah letak huruf “h” atas saran gurunya di Amerika yang sangat mengagumi kejeniusannya. Kahlil Gibran dianggap penyair Arab perantauan terbesar.
Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat sejak tahun 1898 sampai 1901.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.
Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.
Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.
Pengaruh “Broken Wings” terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.
Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Suriah yang tinggal di Amerika.
Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat. ocix_81

Karya

Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam “The Madman”. Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”, 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.
Sebelum terbitnya “Sang Nabi”, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”. Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.
Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931. Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Propeth”.
Kahlil Gibran di Amerika Serikat. May Ziadah di Mesir
Dua sastrawan keturunan Arab yang menjalin kasih tak biasa seperti sebuah cerita yang tak sampai. Awalnya May menyurati sekadar berkomentar untuk karya Gibran, novel Sayap-sayap Patah (1921).
Gibran membalasnya, “Hadrat al-adibah al-fadila” (kepada penulis yang termasyhur dan berbudi luhur), yang khas bernada santun ala Arabia. Surat pertama Kahlil Gibran kepada May Ziadah, bertanggal 2 Januari 1914, itu berisi penantiannya terhadap balasan lain dari Mesir, pujiannya bagi jurnal berbahasa Arab yang baru terbit di New York. Ia juga mengaku tidak bisa memainkan satu pun alat musik. Meminta May agar mengingat dirinya yang jauh di benua asing, saat berdiri di depan patung Sphinx. Bertanya mengenai buku berjudul Syria. Dan, di akhir kalam, diayunkannya pena demi menulis salam takzim seunik tradisi syair Arab: “Sekarang sudah tengah malam, maka selamat malam dan semoga Tuhan melindungi kau untukku.”
Selama kurun waktu mendekati dua puluh tujuh tahun, sejak awal 1914 itu, ternyata akhirnya mereka terus rutin menulis surat. Malah, selanjutnya dihanyutkan perasaan khusus yang berlimpah-ruah dengan asmara.
“…May terkasih. Suratmu membawakan kembali ‘kenangan akan seribu musim gugur dan seribu musim semi’… Tapi aku harus mengunjungi Mesir untuk melihat May dan senyumnya… Apa untungnya buat seorang pria jika disukai oleh seluruh dunia tapi kehilangan simpati May? …Semoga damai beserta jiwamu yang cantik…”. (New York, 7 Februari 1919)
Surat yang melankolis bunyinya. Mungkin tak ada surat dari seorang lelaki yang lebih romantis dari surat ini. KENDATI pun jarak terbentang sejauh ribuan mil antara New York-Boston dengan Kairo. Apalagi mereka tak kunjung bertemu muka. Tapi Kahlil Gibran selalu merasa May Ziadah ada di dekatnya. Petikan ketiga surat ini menggambarkannya,

“…aku duduk dalam ruangan ini dan berlama-lama menatap wajahmu, tanpa sepatah kata…”
(3 November 1920)  “Kita sudah mencapai puncak gunung, dan di bawah kita terbentang lembah, belantara dan padang rumput, jadi mari kita duduk sejenak dan bercakap-cakap sebentar…” (11 Januari 1921)
“Aku menyukai lembah pada musim dingin… ketika kita duduk dekat perapian, dengan wangi bakaran kayu sipres yang selalu menghijau memenuhi rumah dan salju turun di luar, angin menerbangkan (salju itu), lampu-lampu kristal es bergantungan di luar panel jendela, dan suara sungai di kejauhan dan suara badai salju menyatu dalam telinga kita…” (31 Desember 1923)
Puisi mistiknya yang panjang, Sang Nabi, terkenal luas dengan lirik yang brilian, “Kerja adalah cinta yang mengejawantah dan jika engkau tiada sanggup bekerja dengan cinta, maka lebih baik kau mengambil tempat di depan gapura candi, meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita…”
Beberapa dari karya-karya lainnya, Bidadari Lembah, Setetes Air Mata dan Secercah Senyum, Prahara, Si Gila, dan Sang Musafir. Sebagai sastrawan, Gibran mulanya menulis dalam bahasa Arab. Tulisannya cermin perasaan nelangsa dan gamang; begitu pula ada suratnya yang emosional. May Ziadah menyarankan, “Kau seorang penyair dan seniman, dan seharusnya kau bahagia menjadi seorang penyair dan seniman….”  Namun rasa pesimis Gibran mementahkan saran yang baik itu,
“Tapi aku bukan… Aku sudah menghabiskan waktuku, siang malam, untuk menggambar dan menulis, tapi sang ‘aku’ (yaitu ‘diriku’) tidak berada dalam siang maupun malamku. Aku kabut, May. Aku kabut yang menyelubungi benda-benda tapi tidak pernah menyatukan mereka….” (3 November 1920)
Sementara pelbagai kalangan ahli sastra menilai bahwa untaian kata-kata ekspresif dengan proses olah pikir yang mengagumkan dicapai Gibran terutama dalam karya-karya yang ditulisnya dengan bahasa Inggris. Karya berbahasa Arab-nya lebih dianggap bagian dari masa dia belajar menulis sebelum jadi maestro sastra-mistik.
Sebuah telegram dikirimkan dari New York pada 17 Desember 1930 mewakili kepiawaian ekspresifnya. Sekaligus menutup kumpulan Love Letters: Surat-surat Cinta Kahlil Gibran kepada May Ziadah yang lisensi hak siarnya dalam bahasa Indonesia dipegang oleh Grasindo.
Bukan hanya surat-surat dan telegram yang dikompilasi penerbit kumpulan ini. Tapi juga undangan makan malam, kliping koran, kartu pos bergambar lukisan Michaelangelo dan gunung Lafayette, foto, dan sketsa telapak tangan menadah ke api sebagai simbol cintanya kepada si gadis Mesir yang cantik.
Kecintaannya berkesenian memaku Gibran tahan menulis semalam suntuk atau melukis sampai pagi sambil banyak merokok, menjauhkan fisiknya dari kondisi sehat. I

Meninggal

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.
Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.
sumber : wikipedia dan berbagai sumber lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yuk comment....
^-^
komentar anda lebih berharga daripada isi blog saya

Total Tayangan Halaman

Entri Populer