pengunjung

free counters

Jumat, 03 Juni 2011

UWRF Umumkan 15 Penulis Indonesia Terpilih

Sabtu, 04 Juni 2011 | 06:45:00 WIB
UWRF Umumkan 15 Penulis Indonesia Terpilih
UWRF Umumkan 15 Penulis Indonesia Terpilih:
Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) mengumumkan nama 15 penulis Indonesia terpilih yang lolos dalam proses kurasi. Para penulis terpilih akan diundang untuk mengikuti UWRF 2011 pada 5-9 Oktober mendatang di Ubud.

Para penulis terpilih tersebut adalah  Alan Malingi (Bima/NTB), Arafat Nur (Aceh), Aulia Nurul Adzkia (Ciamis), Budy Utamy (Riau), Fitri Yani (Bandar Lampung), Ida Ahdiah (Tangerang), Irianto Ibrahim (Kendari), Pinto Anugrah (Padang), Ragdi F Daye (Padang), Rida Fitria (Lumajang), Sandy Firly (Banjarmasin), Sanie B Kuncoro (Solo), Saut Poltak Tambunan (Jakarta), Satmoko Budi Santoso (Yogyakarta), dan Wahyudin (Banten).

"Tampak jelas bahwa para penulis ini berasal dari berbagai daerah di nusantara. Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali serta NTB semua terwakili dalam jajaran para penulis terpilih ini," ujar Manajer Pengembangan Komunitas UWRF Kadek Purnami, Kamis (2/6).

Para penulis ini dipilih dalam sidang Dewan Kurator UWRF 2011 yang berlangsung di Sanur akhir Mei lalu. Dewan Kurator beranggotakan empat penulis senior, yaitu Kurnia Effendi (Jakarta), Iyut Fitra (Payakumbuh), Dorothea Rosa Herliany (Magelang) dan Made Adnyana Ole (Bali).

"Para penulis terpilih ini telah mencerminkan prinsip kenusantaraan karena mereka berasal dari daerah serta latar budaya yang beragam. Karya-karya merekapun beragam bentuknya, ada yang menulis puisi, ada yang menulis novel, esai, cerpen, dan juga naskah drama," ujar Kurnia Effendi.

Kurnia Effendi juga memuji keragaman tema yang dibahas para penulis dalam karya-karya-nya.

"Ada yang karyanya terinspirasi oleh kekayaan cerita daerah dari tanah kelahirannya, ada juga yang mengeksplorasi kehidupan dan tantangan yang dialami para buruh migrant Indonesia di luar negeri," ujarnya.

Keragaman latar belakang penulis, bentuk karya dan tema ini, menurut Iyut Fitra, akan memungkinkan terjadinya diskusi dan tukar pikiran yang hangat saat para penulis terpilih ini berkumpul di Ubud pada Oktober mendatang.

"Semoga pertukaran ide dan dialog yang terjadi selama UWRF 2011 akan saling menginspirasi para penulis dan tentunya makin meneguhkan jalinan kebangsaan kita," ujar Iyut Fitra.

Sedangkan Dorothea Rosa Herliany sendiri meminta pihak panitia UWRF untuk lebih memberikan perhatian kepada wilayah timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, yang tidak terwakili dalam jajaran para penulis terpilih kali ini.

"Perlu dipikirkan langkah-langkah tambahan untuk memperkenalkan UWRF ke wilayah timur serta untuk mendorong partisipasi para penulis di wilayah tersebut," katanya.

Kadek Purnami mengungkapkan bahwa para penulis terpilih itu diseleksi dari sekitar 235 penulis yang telah mengajukan karya-karya nya ke panitia UWRF 2011.

"Tahun ini jumlah penulis yang mengikuti seleksi memang meningkat luar biasa. Tahun lalu ada 105 penulis yang mengikuti proses seleksi," ujarnya.

Para penulis yang mengirim karyanya untuk proses seleksi tahun ini berasal dari 60 kota di Indonesia.

"Ini menunjukkan bahwa memasuki tahun ke delapan UWRF telah berhasil menjadi salah satu ajang kesusastraan yang paling dikenal di Indonesia," ujarnya.

Para penulis terpilih akan diterbangkan ke Ubud untuk menghadiri dan berbicara dalam UWRF 2011. Selain itu, karya-karya terpilih mereka akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi bersama festival.

"Sejak 2008 kita telah menerbitkan 3 antologi bilingual yang menghimpun karya-karya para penulis terpilih Indonesia, antologi pertama berjudul Reasons for Harmony, kedua berjudul Compassion and Solidarity dan yang ketiga berjudul Harmony in Diversity. Buku-buku ini telah dikirim ke berbagai universitas dan pusat penulis di luar negeri untuk lebih memperkenalkan sastra Indonesia ke tataran global," paparnya.

Seluruh proses seleksi dan partisipasi penulis Indonesia terpilih serta penerbitan antologi dibiayai bersama oleh UWRF dan Hivos, sebuah lembaga nirlaba asal Belanda yang memajukan upaya-upaya demokratisasi dan pembangunan masyarakat sipil di negara-negara berkembang.

UWRF diselenggarakan pertama kali pada 2004 dan kini telah berkembang menjadi salah satu festival sastra terbesar di dunia. Fatimah Bhutto, penyair yang juga cucu mendiang PM Pakistan Zulfikar Ali Bhutto, memuji UWRF sebagai festival sastra terbaik di dunia.

Tahun ini UWRF akan mengangkat tema Nandurin Karang Awak/Cultivate the Land Within yang diinspirasi oleh puisi tradisional karya mendiang Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta-pujangga terbesar Bali di abad ke-20. (*)

Share on: Twitter | Facebook | Reddit | Digg | Bagikan  | akses http://m.inioke.com dari gadget mu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yuk comment....
^-^
komentar anda lebih berharga daripada isi blog saya

Total Tayangan Halaman

Entri Populer